KARYA ILMIAH TENTANG
PERADABAN AWAL DI KEPULAUAN
D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
NAMA : IMAM ARBA
KELAS :
X.2
SMA NEGERI 1 TALANG KELAPA
TAHUN AJARAN 2012/2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT. Karena atas rahmad dan karunia-nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas yang berjudul “Kehidupan Awal Manusia di Kepulauan
Dalam
kesempatan ini pula saya menyampaikan rasa bahagia dan ucapan rasa terima kasih
kepada :
- Orang yang telah membiayai dan memfasilitasi saya untuk mengerjakan tugas ini.
- Pak Mariyadi, selaku guru pembimbing mata pelajaran sejarah yang telah memberi saya tugas ini.
- Rekan-rekan seangkatan yang telah motivasi dan dukungan baik secara moril maupun materil.
- Rekan-rekan yang turut membantu dalam pembuatan karya ilmiah ini.
Saya menyadari
bahwa dalam penyusunan tugas ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
saya mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan penyusunan
tugas yang akan datang.
Sukamoro, Mei 2014
Imam Arba
Penyusun
Daftar Isi
Kata
Pengantar………………………………………………….. 1
Daftar
Isi…………………………………………………………2
Kehidupan Awal Manusi di
Kepulauan Indonesia ………………3
Sumber-sumber
Prasejarah………………………………………3
Proses
Muncul Berkembangnya Kehidupan Awal Manusia
Dan
Masyarakat Indonesia ………………………………………3
Kronologis
Perkembangan Biologis Manusia Purba
Periodisasi
Perkembangan Budaya pada Masyarakat
Awal
Indonesia
Berdasarkan Bukti Arkeologi…………………..5
Penutup…………………………………………………………..6
Kehidupan Awal Manusia di
Kepulauan Indonesia
Waktu merupakan
salah satu konsep dasar sejarah selain ruang. Kegiatan manusia, perubahan dan
kesinambungan . Ia merupakan unsur penting dari sejarah yaitu kejadian masa
lalu. Dengan kata lain waktu merupakan konstruksi gagasan yang digunakan untuk
memberi makna dalam kehidupan di dunia. Manusia tak dapat dilepaskan dari waktu
karena perjalanan hidup manusia sama dengan perjalanan waktu itu sendiri. Tiap
masyarakat memilki pandangan yang relatif berbeda tentang waktu yang mereka
jalani. Contoh : masyarakat Barat melihat waktu sebagai sebuah garis lurus
(linier). Konsep garis lurus tentang waktu diikuti dengan terbentuknya konsep
tentang urutan kejadian. Dengan kata lain sejarah manusia dilihat sebagai
sebuah proses perjalanan dalam sebuah garis waktu sejak zaman dulu, zaman
sekarang dan zaman yang akan datang. Berbeda dengan masyarakat Barat,
masysrakat Hindu melihat waktu sebagai sebuah siklus yang berulang tanpa akhir.
Dari perjalanan di atas tentang waktu, khususnya konsep waktu yang lurus, masa
lalu perkembangan sejarah manusia akan mempengaruhi perkembangan masyarakat
masa kini dan masa yang akan datang. Agar waktu dalam setiap peristiwa atau
kejadian dapat dipahami, maka sejarah membuat pembabakan waktu atau
periodisasi. Maksud periodisasi ini adalah agar babak waktu itu menjadi jelas
ciri-cirinya. Contohnya sejarah Eropa dapat dibagi ke dalam 3 periode yaitu
zaman klasik/kuno, zaman pertengahan dan zaman modern.
Sebenarnya ada
istilah lain untuk menamakan zaman prasejarah yaitu zaman Nirleka, Nir artinya
tidak ada dan leka artinya tulisan, jadi zaman Nirleka zaman tidak adanya
tulisan. Batas antara zaman prasejarah dengan zaman sejarah adalah mulai adanya
tulisan. Hal ini menimbulkan suatu pengertian bahwa prasejarah adalah zaman
sebelum ditemukannya tulisan, sedangkan sejarah adalah zaman setelah adanya
tulisan. Berakhirnya zaman prasejarah atau dimulainya zaman sejarah untuk
setiap bangsa di dunia tidak sama tergantung dari peradaban bangsa tersebut.
Salah satu contoh yaitu bangsa Mesir + tahun 4000 SM masyarakatnya sudah
mengenal tulisan, sehingga + tahun 4000 bangsa Mesir sudah memasuki zaman
sejarah. Dari penjelasan di atas, apakah Anda sudah paham? Kalau Anda sudah
memahami, tentu Anda sudah mempunyai gambaran tentang sejarah Indonesia .
Sumber-sumber
Prasejarah
Fosil adalah
sisa-sisa makhluk hidup yang telah membatu karena adanya proses kimiawi. Fosil
merupakan peninggalan masa lampau yang sudah tertanam ratusan peninggalan masa
lampau yang sudah tertanam ratusan bahkan ribuan tahun di dalam tanah.
Sumber-sumber
Sejarah Peristiwa masa lalu dapat diketahui secara lengkap dan mendekati
kebenaran adanya sumber-sumber yang beranekaragam. Ditinjau dari wujudnya, maka
sumber sejarah dapat dibagi lagi menjadi 4, yaitu:
- Sumber lisan adalah sumber sejarah yang berupa keterangan dari seseorang atau beberapa orang yang menyaksikan langsung atau mengalami langsung suatu peristiwa.
- Sumber tertulis adalah sumber sejarah yang berupa keterangan tertulis mengenai suatu peristiwa/kejadian misalnya data, dokumen, babad prasasti, naskah kuno, buku, dan sebagainya.
- Sumber benda adalah sumber sejarah yang berupa benda-benda peninggalan budaya atau la zim dinamakan benda purbakala, misalnya: candi, senjata, gedung, dan sebagainya.
A.
Proses Muncul Berkembangnya Kehidupan Awal Manusia Dan Masyarakat Indonesia
Dengan bantuan ilmu geologi (ilmu
yang mempelajari bumi ) perkembangan bumi dari awal terbentuknya sampai dengan
sekarang, terbagi menjadi beberapa jaman yaitu :
- Jaman azoikum (tidak ada kehidupan)
Jaman ini
berlangsung sekitar 2500 juta tahun, keadaan bumi masih belum stabil dan masih
panas karena sedang dalam proses pembentukan. Oleh karena itu pada jaman ini
tidak ada tanda-tanda kehidupan.
- Jaman paleozoikum (kehidupan tertua)
Jaman ini
berlangsung sekitar 340 juta tahun, keadaan bumi masih belum stabil dan masih
terus berubah. Akan tetapi menjelang akhir dari jaman ini mulai ada tanda-tanda
kehidupan yaitu dari hewan bersel satu, hewan kecil yang tidak bertulang
belakang, jenis ikan, amfhibi, reptil dan beberapa jenis tumbuhan ganggang.
Karena itulah maka jaman ini dinamakan pula dengan jaman primer (jaman
kehidupan pertama).
- Jaman mesozoikum (kehidupan pertengahan)
Jaman ini di
perkirakan berlangsung sekitar 140 juta tahun, pada jaman ini kehidupan telah
mengalami perkembangan yang sangat pesat. Pohon-pohon besar muncul, amfhibi
mengalami perkembangan, bahkan jenis reftil mencapai bentuk yang sangat besar
sekali seperti dinosaurus, tyrannosaurus, brontosaurus, atlantosaurus.
- Jaman neozoikum (kehidupan muda)
Jaman ini
diperkirakan berlangsung sekitar 60 juta tahun, jaman ini terbagi lagi menjadi
jaman tersier (kehidupan ke-3) dan quarter (kehidupan ke-4). Pada jaman ini keadaan
bumi telah membaik, perubahan cuaca tidak begitu besar dan kehidupan berkembang
dengan pesat.
- Jaman tersier
Pada jaman
tersier, reftil raksasa mulai lenyap, mamalia berkembang pesat, mahluk primata
sejenis kera mulai ada kemudian muncul jenis orang utan sekitar 10 juta tahun
yang lalu muncul jenis hewan primata yang lebih besar dari pada gorila sehingga
disebut giganthropus. Hewan ini menyebar dari Afrika ke Asia Selatan, tetapi
kemudian punah.
Pada masa itu pulau Kalimantan
masih bersatu dengan benua Asia , sebagai
buktinya jenis babi purba (choeromous) dari jaman ini ditemukan pula di Asia
Daratan.
- Jaman quarter
Berlangsung
sekitar 600 ribu tahun, ditandai dengan adanya tanda-tanda kehidupan manusia.
Jaman ini terbagi atas jaman diluvium (pleistocen) dan jaman alluvium
(holocen). Jaman diluvium berlangsung sekitar 600 ribu tahun yang lalu, mulai
muncul kehidupan manusia purba. Jaman ini dinamakan pula jaman glacial (jaman
es) karena es di kutub utara mencair sehingga menutupi sebagian wilayah Eropa
Utara, Asia Utara dan Amerika Utara.
Pada masa ini
Sumatera, Jawa, dan Kalimantan masih menyatu dengan daratan Asia, sedangkan
Indonesia Timur dengan Australia .
Mencairnya es di kutub telah mengakibatkan pulau-pulau di Indonesia dipisahkan
oleh lautan baik dengan Asia maupun Australia . Bekas daratan Asia yang
sekarang menjadi dasar laut disebut Paparan Sunda, sedangkan bekas daratan
Australia yang terendam air laut disebut Paparan Sahul, kedua paparan tersebut
dipisahkan oleh Zone Wallace.
Pada masa ini hewan-hewan yang
berbulu tebal seperti mamouth (gajah besar berbulu tebal ) mampu bertahan
hidup. Sedangkan yang berbulu tipis migrasi ke wilayah tropis. Perpindahan
hewan dari daratan asia ke Indonesia
terbagi atas dua jalur. Pertama melalui Malaysia
ke Sumatra dan Jawa, kedua melalui Taiwan ,
Philipina ke Kalimantan dan Jawa.
Pada jaman ini
terjadi pula perpindahan manusia dari daratan Asia ke Indonesia , yaitu pitechanthropus
erectus (ditemukan di Trinil) yang sama dengan sinanthropus pekinensis.
Demikian juga dengan hasil kebudayaan Pacitan yang banyak ditemukan di Cina , Malaysia
, Birma. Homo wajakensis yang menjadi nenek moyang bangsa Austroloid ikut pula
menyebar dari Asia ke selatan sampai ke Australia
dan menurunkan penduduk asli Australia
yaitu bangsa aborigin
Jaman alluvium , pada masa ini
kepulauan Indonesia telah
terbentuk dan tidak lagi menyatu dengan Asia maupun Australia . Jenis manusia pertama
yang migrasi dari Asia ke Indonesia
telah tidak ada dan digantikan oleh jenis manusia cerdas (homo sapiens).
B.
Kronologis Perkembangan Biologis Manusia Purba Indonesia
Kehidupan
manusia pra sejarah dapat di ketahui melalui berbagai fosil . berdasarkan
penelitian manusia tersebut telah memiliki kemampuan untuk mengembangkan
kehidupan walaupun masih sangat sederhana dan kemampuan berfikir terbatas.
Berikut ini beberapa penemuan fosil manusia purba di Indonesia
- Meganthropus Paleo Javanicus
Artinya manusia
Jawa tertua yang berbadan besar, yang hidup di Jawa sekitar 2-1 juta tahun
silam. Manusia ini mempunyai ciri biologis berbadan besar, kening menonjol,
tulang pipi tebal, rahang besar dan kuat, makanan utamanya adalah tumbuhan dan
buah-buahan, hidup dengan cara food gathering (mengumpulkan makanan ). Ralph
von Koenigswald menemukan fosil dari rahang bawah manusia jenis ini di Sangiran
(lembah Bengawan Solo) pada 1941.
- Pitechanthropus
Diartikan dengan
manusia kera, fosilnya paling banyak ditemukan di Indonesia . Mereka hidup dengan cara
food gathering dan berburu. Pitechanthropus terbagi kedalam beberapa jenis
yaitu: pitechanthropus mojokertensis, robustus, dan erectus. Pitechanthropus
mojokertensis fosilnya ditemukan oleh Von Koenigswald pada tahun 1936, dalam
bentuk tengkorak anak-anak berusia 5 tahunan di Mojokerto (lembah Bengawan
Solo). Hidup sekitar 2,5 – 2,25 juta tahun lalu. Ciri – ciri biologisnya antara
lain: muka menonjol kedepan, kening tebal dan tulang pipi yang kuat. Pitechanthropus
robustus, fosilnya ditemukan oleh Wiedenreich dan Koenigswald di Trinil
(Ngawi, Jawa Timur) 1939. Ciri
biologisnya hampir sama dengan pitechathropus mojokertensis, bahkan Koenigswald
menganggapnya masih dari jenis yang sama. Pitechanthropus erectus, (manusia
kera berjalan tegak), fosilnya ditemukan oleh Eugene Dubois di Trinil (Ngawi,
Jatim) pada 1890. Mereka hidup sekitar 1 juta sampai 600 ribu tahun yang lalu.
Ciri biologisnya bertubuh agak kecil, badan tegap, pengunyah yang kuat, volume
otak 900 cc, kemampuan berfikir masih rendah, menurut pendapat teuku jakob,
manusia ini telah bisa bertutur.
- Homo
Jenis homo
soloensis, fosilnya ditemukan antara 1931 -1934 oleh Von Koenigswald, di sepanjang lembah Bengawan Solo. Homo
soloensis diperkirakan hidup antara 900-200 ribu tahun lalu. Ciri biologis
diantaranya bentuk tubuh tegak, kening tidak menonjol. Menurut Koenigswald,
jenis ini lebih tinggi tingkatannya dari pitechanthropus erectus.Homo
wajakensis, fosilnya ditemukan oleh Rietschoten dan Dubois antara tahun
1888-1889 di desa Wajak (Tulung Agung ). Ciri biologisnya: tinggi mencapai
130-210 cm, berat badan sekitar 30 – 150 kg, volume otak sampai dengan 1300cc.
Mereka hidup dengan makanan yang telah dimasak walaupun dalam bentuk yang
sangat sederhana.
C.
Periodisasi Perkembangan Budaya pada Masyarakat Awal Indonesia Berdasarkan
Bukti Arkeologi
Berdasarkan
arkeologi (ilmu yang mempelejari peninggalan purbakala dari manusia pra sejarah
). Perkembangan budaya manusia Indonesia
dapat digolongkan menjadi beberapa periode yaitu periode jaman batu (batu tua,
batu tengah, batu muda, dan jaman logam (perunggu) ).
- Jaman Batu
- Paleolithikum (batu tua)
Ciri dari jaman ini adalah
peralatan buat dari batu masih kasar dan belum diasah. Alat dari batu ini
dibuat dengan cara membenturkan batu yang satu dengan yang lainnya, pecahan
batu yang menyerupai kapak kemudian mereka gunakan sebagai alat.
Cara hidup manusia pada jaman
palleolithikum adalah: nomad dalam kelompok kecil , tinggal dalam gua atau
ceruk karang, berburu. Mengumpulkan makanan (food gathering) . Menurut Teuku
Tacob, bahasa sebagai alat komunikasi telah ada dalam tingkat sederhana. Berdasarkan
tempat penemuannya, jaman palleolithikum terbagi atas kebudayaan Pacitan dan
Ngandong.
Kebudayaan Pacitan, peralatan
yang dihasilkan adalah kapak genggam, alat penetak (chopper), ditemukan oleh
Koenigswald 1935. Selain di Pacitan, alat – alat tersebut ditemukan pula di
beberapa daerah seperti : Sukabumi (Jabar), Parigi, Gombong (Jateng) , Lahat
(Sumsel), Lampung, Bali, Sumbawa , Flores,
Sulsel. Alat-alat tersebut ditemukan pada lapisan yang sama dengan ditemukannya
fosil pitechanthropus erectus.
Kebudayaan Ngandong, peralatan
yang ditemukan adalah flakes (alat serpih) berupa pisau atau alat penusuk.
Disamping itu ditemukan pula peralatan dari tulang dan tanduk. Berupa belati,
mata tombak yang bergerigi, alat pengorek ubi, tanduk menjangan yang diruncingkan
dan duri ikan pari yang diruncingkan. Alat-alat tersebut ditemukan pula di
daerah lain seperti di Sangiran dan Sragen (Jateng). Manusia pendukung
kebudayaan Ngandong adalah homo soloensis dan homo wajakensis, karena ditemukan
pada lapisan tanah yang sama dengan peralatan kebudayaan Ngandong.
- Mesolitihkum (batu tengah)
Ciri dari jaman ini adalah
peralatan dari batu yang telah diasah bagian yang tajamnya. Jaman ini merupakan
peralihan dari palleolithikum ke neolithikum. Yang menarik dari jaman
messolithikum adalah ditemukannya tumpukan sampah dapur yang kemudian diberi
istilah kjokkenmoddinger dan abris sous roche oleh penelitinya yaitu Callenfels
(dijuluki bapak pra sejarah).
Kjokkenmoddinger adalah tumpukan
kulit kerang dan siput yang telah membatu, banyak dijumpai di pinggir pantai.
Sedangkan abris sous roche adalah tumpukan dari sisa makanan yang telah membatu
di dalam gua. Cara hidup
messolhitikum adalah sebagian masih food gathering dan berburu tetapi sebagian
telah menetap dalam gua dan bercocok tanam sederhana (berladang) menanam
umbi-umbian. Telah pula menjinakan hewan dan menyimpan hewan buruan sebagai
langkah awal untuk berternak.
Mereka telah membuat gerabah,
mengenal kesenian dalam bentuk lukisan di dinding gua (lukisan gua) ketika
mereka telah menetap. Lukisan tersebut berupa gambar telapak tangan berlatar
belakang warna merah, gambar babi rusa yang tertancap panah (di Gua Leang-leang
– Sulsel), penelitinya dilakukan oleh Heekren Palm, 1950 di gua pulau Muna ,
ditemukan berbagai lukisan manusia, kuda, rusa, buaya, anjing. Di Maluku dan
Papua, lukisan gua dalam bentuk gambar cap tangan, kadal, manusia, burung,
perahu, mata, matahari.
Jaman messolithikum terbagi atas
3 kelompok budaya : kebudayaan fleks, (fleks culture), kebudayaan pebble (pebble
culture ), kebudayaan tulang (bone culture). Kebudayaan ini didukung oleh
manusia dari jenis Papua Melanesoid yang berasal dari Indo-Cina.
Fleks culture, peralatan berupa
alat serpih yang telah ada jaman palleolithikum , menjadi sangat penting pada
jaman messolithikum, sehingga memunculkan corak tersendiri. Terutama setelah
mendapatkan pengaruh dari budaya daratan. Dua orang peneliti berkebangsaan
Swiss (Fritz Sarasin dan Paul Sarasin ) antara 1893-1896, melakukan penelitian
di Sulsel, dan berhasil menemukan fleks. Peralatan sejenis juga ditemukan di
daerah lain yaitu Bandung (fleks dari obsidian
yaitu batu hitam yang indah), Flores, NTT dan Timor .
Flakes culture merupakan pengaruh dari Asia Daratan yang masuk ke Indonesia melalui jalur timur yaitu Jepang , Taiwan ,
Philipina, Sulawesi .
Pebble culture, peralatan berupa
kapak genggam Sumatera (pebble), kapak pendek (hacte curte), batu penggiling,
pisau, Callenfels pada 1925, melakukan penelitian di pesisir Sumatera dan
menemukan peralatan di atas bersama kjokkenmoddinger. Pebble culture merupakan
pengaruh dari kebudayaan bacson hoabinh (Indo-Cina) yang masuk ke Indonesia
melalui jalur barat yaitu Malaka dan Sumatera.
Bone culture, penelitian
dilakukan oleh Callenfels 1928-1931 di Ponorogo. Peralatan tersebut ditemukan
bersama dengan abris sous roche di gua-gua. Ditemukan pula fosil dari jenis
manusia Papua melanesoide, yang merupakan nenek moyang orang Papua (Irian).
Peralatan dan fosil sejenis di temukan pula di besuki dan Bojonegoro.
- Neolhitikum (batu muda)
Ciri jaman batu muda adalah
pemakaian peralatan dari batu yang telah diasah halus karena telah mengenal
teknik mengasah. Pada jaman ini terjadi revolusi kehidupan (perubahan dari
kehidupan nomad dengan food gathering menjadi menetap dengan food producing) .
Cara hidup pada jaman neolithikum
adalah hidup menetap, bertempat tinggal dekat sumber air, food producing
(menghasilkjan makanan dari bercocok tanam dan berternak walaupun berburu masih
dilakukan terutama pada waktu senggang), membuat rumah bertonggak dengan atap
dari daun-daunan membuat kain dari kulit kayu (ditemukan pemukul kulit kayu),
membuat perahu atau rakit, membuat perhiasan dari batu-batu kecil indah.
Menurut penelitian Kem mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa melayu
Polinesia.
Pada akhir jaman
ini telah dikenal kepercayaan dalam bentuk animisme (kepercayaan tentang adanya
arwah nenek moyang yang memiliki kekuatan gaib ) dan dinamisme (kepercayaan
terhadap benda-benda yang dianggap memilki kekuatan gaib). Mereka percaya bahwa
setelah mati ada kehidupan lain sehingga diadakanlah berbagai upacara terutama
bagi kepala sukunya. Mayat yang dikubur disertai dengan berbagai macam benda
sebagai bekal di alam lain. Dan sebagai peringatan maka dibangunlah berbagai
monumen (bangunan) yang rutin diberi sajian agar arwah yang meninggal (leluhur)
melindungi dan memberikan kesejahteraan bagi sukunya. Pada jaman ini pembuatan
gerabah memegang peranan penting sebagai wadah atau tempat dalam kehidupan
sehari-hari. Adapula gerabah yang digunakan untuk keperluan upacara dan gerabah
yang dibuat dengan indah baik bentuk maupun hiasannya. Berdasarkan peralatannya
kebudayaan jaman neolitihkum di bedakan menjadi kebudayaan kapak persegi dan
kapak lonjong berasal dari heine geldern berdasarkan kepada penampang yang
berbentuk persegi panjang dan lonjong.
Kebudayaan kapak
persegi, kebudayaan kapak persegi berasal dari Asia Daratan yang menyebar ke Indonesia melalui jalur barat melalui Malaka,
Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi , dan
Nusatenggara. Terdapat kapak persegi ukuran kecil (digunakan sebagai fungsi
kapak) dan yang ukuran besar (digunakan sebagai fungsi beliung atau cangkul).
Di beberapa daerah ditemukan bekas-bekas pusat kerajinan kapak persegi seperti
di Lahat (Palembang ), Bogor , Sukabumi, Purwakarta, Tasik (Jabar),
Pacitan (Jatim). Kebudayaan kapak persegi didukung oleh manusia proto melayu
(melayu tua ) yang migrasi ke Indonesia menggunakan perahu bercadik sekitar
2000 sm. Yang merupakan keturunan ras melayu tua adalah suku Sasak, Toraja,
Batak dan Dayak. Di Minahasa (Sulut ) ditemukan kapak bahu, sejenis kapak
persegi diberi leher untuk pegangannya. Kebudayaan kapak lonjong, ukuran kapak
lonjong ada yang besar (walzenbeli) dan kecil (kinbeli), sering di sebut dengan
istilah neolith papua karena penyebarannya terbatas di Irian saja oleh bangsa
papua melaneside.
Dari peralatan
yang ditemukan, baik kapak persegi maupun kapak lonjong dibuat dari batu api (chalcedon ), terdapat pula
kapak yang tidak terdapat tanda-tanda bekas dipakai dalam bentuk yang indah
(sebagai alat berharga, lambing kebesaran atau jimat).
- Jaman Logam
- Jaman perunggu
Kebudayaan
perunggu di Asia Tenggara merupakan pengaruh dari kebudayaan dongson, yang
berkembang di Vietnam, Geldern berpendapat bahwa kebudayaan dongson berkembang
paling muda sekitar 300 sm pendukung kebudayaan perunggu adalah bangsa Deuteuro
Melayu (melayu muda) yang migrasi ke Indonesia sambil membawa kebudayaan
dongson. Keturunannya adalah Jawa, Bali ,Bugis,
Madura, dll.
Bahkan ditemukan
beberapa bukti bahwa telah terjadi pembaruan antara melayu monggoloide (proto
melayu dengan deuteuro melayu) dan papua melaneside. Ciri jaman perunggu adalah
pemakian peralatan dari logam yang dikembangkan melalui tehnik bivalve
(rangkap) dan a cire perdue (cetak lilin). Namun bukanlah berarti setelah itu
peralatan dari batu dan gerabah ditinggalkan karena masih terus dipergunakan
bahkan sampai sekarang. Ciri kehidupan pada jaman perunggu adalah telah
terbentuk perkampungan yang teratur dipimpin oleh kepala suku atau ketua adat,
tinggal dalam rumah bertiang yang besar yang bagian bawahnya dijadikan tempat
ternak, bertani (berladang dan bersawah) dengan system irigasi sehingga
pengairan tidak selalu bergantung kepada hujan. Telah terdapat pembagian kerja
berdasarkan keahlian sehingga munculah kelompok undagi (tukang yang ahli
membuat peralatan logam). Mereka telah menguasai ilmu astronomi (untuk
kepentingan pelayaran dan pertanian ) dan membuat perahu bercadik. Beberapa
hasil budaya pada jaman perunggu adalah kapak corong (kapak sepatu), candrasa (kapak
corong yang salah satu sisinya memanjang), terdapat candrasa dan kapak corong
yang indah dan tidak ada tanda-tanda bekas digunakan. Nekara (seperti dandang
tertulungkup), moko (nekara yang lebih kecil), terdapat berbagai perhiasan
seperti garis lurus, piln-pilin, binatang, rumah, perahu, lukisan orang
berburu, tari dan lukisan orang cina (monggol). Selain itu mereka membuat
bejana perunggu (berbentuk seperti periuk yang gepeng) dengan hiasan indah
(dalam bentuk garis dan burung merak). Arca perunggu berupa arca (ditemukan di
Bangkinang – Sulsel, Bogor-Jabar, dan Riau ) perhiasan perunggu seperti gelang,
kalung, anting, dan cincin.
- Kebudayaan megalithikum (batu besar)
Disebut
kebudayaan batu besar karena pada umumnya menghasilkan kebudayaan dalam bentuk
monumen yang terbuat dari batu berukuran besar. Kebudayaan ini muncul pada
akhir jaman neolhitikum, tetapi perkembangannya justru terjadi pada jaman
perunggu (kebudayaan dongson).
Hasil-hasil dari kebudayaan
megalithikum memberikan petunjuk kepada kita mengenal perkembangan kepercayaan,
terutama pemujaan terhadap arwah nenek moyang, yang memang telah muali nampak
pada akhir jaman neolithikum berikut ini adalah hasil-hasil budaya
megalhitikum:
Menhir, tugu
batu yang terbuat dari batu tunggal, yang berfungsi sebagai tanda peringatan
dan melambangkan arwah nenek moyang sehingga menjadi bendapemujaan , menhir
banyak ditemukan di Pasemah, Lahat, Sungai Talang Koto (Sumatera), Nagada
(Flores).
Dolmen, meja
batu tempat sesaji, ada dolmen yang disangga oleh menhir dan ada pula yang
digunakan sebagai penutup keranda atau sarchopagus, yang demikian dinamakan
dengan pandhusa. Sarcophagus (keranda), peti mati tempat penyimpanan mayat yang
berbentuk lesung terbuat dari batu utuh yang diberi tutup. Di Bali ditemukannya
keranda yang berisi tulang belulang manusia, barang perunggu serta manik-manik.
Kubur batu, peti mayat yang dipendam di dalam tanah berbentuk persegi panjang
dengan ke empat sisinya di buat dari lempengan – lempengan batu. Ada pula yang disebut
waruga, yaitu kubur batu yang berbentuk bulat. Kubur batu banyak ditemukan di
Kuningan (Jabar), Pasemah (Sumatera), Wonosari (Yogja) dan Cepu (Jateng). Punden
berundak, bangunan pemujaan terhadap roh nenek moyang yang berupa susunan batu
bertingkat. Banyak ditemukan di Banten, Garut, Kuningan, Sukabumi (Jabar).
Dalam perkembangan selanjutnya, punden berundak merupakan dasar dalam pembuatan
candi, bangunan keagamaan maupun istana. Selain itu ditemukan pula hasil budaya
megalithikum dalam bentuk patung atau arca manusia yang menggambarkan wujud
nenek moyang atau arca binatang. Banyak ditemukan di daerah Pasemah (Sumatera),
sementara di di Lembah Bada (Sulteng) ditemukan patung manusia (laki-laki dan
perempuan)..
Penutup
Demikian
yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam
makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena
terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada
hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dusi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.



